Oleh: KH. Hilmi Aminuddin
Puluhan tahun yang lalu, langkah-langkah harakah di sini, di Indonesia, sunyi sepi. Illa ma’allah, kecuali bersama Allah. Mengayunkan kaki seorang diri. Beberapa waktu kemudian dilakukan ta’sis haraki atau ta’sis amali. Dalam ta’sis tanzhimi
waktu itu, kita hanya berkumpul empat orang. Kita hanya duduk lesehan,
bukan di hotel. Dari hanya empat orang, sekarang di level qiyadah saja sudah ada ratusan orang.
Saya menjadi yakin, kata-kata dari salafu-shalih dalam dakwah ini yang mengatakan, “Ad-Da’watu Waludatun.”, bahwa dakwah ini sangat mudah beranak pinak. Sangat subur dan mudah berketurunan.
Lihat saja ikhwan dan akhwat
yang bergabung dalam dakwah ini, secara biologis pun jumlah anaknya
lumayan. Saya kira secara nasional keluarga kita ‘paling berprestasi’,
lima, delapan, sepuluh, atau tiga belas orang anak. Ini salah satu
indikator bahwa “Ad-Da’watu Waludatun.”, bahwa dakwah ini sangat subur melahirkan generasi baru. Bahkan secara biologis lebih dulu dibuktikan oleh Allah SWT secara ‘a’iliyah thabi’iyyah.
Secara haraki da’awi pun
kita lihat luar biasa. Ini membuat saya di hari tua tersenyum. Rasanya
saya tidak perlu berdo’a seperti Nabi Zakaria, yang dikisahkan oleh
Allah SWT dalam surah Maryam. Dia merayu dan merajuk kepada Allah SWT,
dalam kesepuhan dan kerentaan, beliau masih belum juga memiliki generasi
penerus yang akan melanjutkan langkah-langkah dakwah. Langkah-langkah
dakwah yang diharapkan dapat diteruskan oleh pewaris itu belum juga
muncul, sehingga beliau melanjutkan dengan do’a yang dijelaskan oleh
Allah SWT,
“Dan
sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang
isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi
Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian
keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai”. (QS. Maryam, 19: 5-6)
Agar menjadi pewaris esensinya adalah pewaris dakwah. Penerus-penerus risalah Nabiyullah Ya’qub ‘alahissalam.
Sepertinya saya tidak perlu berdo’a seperti ini, karena baik secara biologis atau secara haraki pun, Allah telah membuktikan bahwa “Ad-Da’watu Waludatun.”, bahwa
dakwah ini sangat subur melahirkan generasi baru, termasuk generasi
kepemimpinan. Bahwa dakwah ini mendapat sambutan yang hangat dari
generasi terbaik dari umat ini. Bahkan sebetulnya, kalau kita pelajari
secara demografis—penduduk negara-negara muslim itu rata-rata banyak.
Berarti pula “Ad-Da’watu Waludatun.” Itu berpangkal dari “Al-Ummatu Waludatun.”, bahwa umat kita sangat tinggi populasinya dan mudah beranak pinak. Ada masyaikh dakwah yang mengatakan bahwa di bumi di mana kalimat ‘La Ilaha Illa-llah Muhammadur-Rasulullah’ dikumandangkan, maka segalanya akan subur. Cepat melahirkan betapa pun kondisinya sulit.
Di
Palestina dalam kondisi terhimpit, terjajah, tertindas, dan ada
pembantaian, perbandingan kelahiran antara Muslimin Palestina dan Yahudi
adalah 1 : 50. Yahudi sebelum takut oleh ledakan roket-roket HAMAS,
sudah takut oleh ledakan penduduk umat Islam Palestina.
Jadi ikhwan wa akhwat fillah, kalau kemudian para salafu-shalih mengatakan al-mustaqbal lil-Islam dan al-mustaqbal li-da’watina, itu sesuai dengan fitrah pertumbuhan. Baik secara demografis maupun secara dakwah dan harakah.
Harakah dan
dakwah kita di Indonesia sangat berpeluang dan paling berpotensi dalam
segi pertumbuhan. Kalau dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah
sangat jauh. Bahkan dengan saudara-saudara kita di negeri tetangga. Kita
sudah memasuki era musyarakah, dengan mizhallah siyasiyah, payung
politik yang besar dan lebar. Tersedia medan yang luas untuk bergerak,
peluang-peluang juga sangat luas di segala bidang. Dan Alhamdulillah pertumbuhan
kader pun sangat menggembirakan. Ini adalah pemberian Allah semata.
Umat Islam di Indonesia dengan populasi penduduk lebih dari 220 juta,
juga menjadikan harakah dakwah kita populasinya tumbuh pesat.
Pertumbuhan itu akan semakin pesat dengan dipicu dan dipacu oleh
target-terget yang sudah digariskan dalam kebijakan jama’ah.
al-intima.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar