Jakarta - Setelah keluar dari AU AS, drg Ranti Aryani
harus melamar pekerjaan di dunia sipil. Surat lamaran pun dikirimkan ke
berbagai klinik gigi. Sebagian besar klinik itu mundur setelah tahu
bahwa dirinya berjilbab. Di dunia sipil ini, Ranti lagi-lagi menggugat
diskriminasi yang dialaminya melalui pengadilan.
"Kemudian
terjun sebagai sipil yang dentist (dokter gigi), saya hadapi
islamicphobia juga di masyarakat. Beberapa perusahaan nasional menolak
saya. Tentu mereka nggak bilang saya pakai jilbab, tapi karena ini dan
itu," kisah Ranti ketika ditemui detikcom di Jalan Puter I, Bintaro
Sektor 5 yang ditulis Jumat (9/8/2013).
Ada beberapa perusahaan
regional yang terang-terangan menolaknya karena dirinya berjilbab. Ranti
tak tinggal diam, diadukan perlakuan yang diterimanya ini kepada Equal
Employment Opportunity Commission (EEOC), lembaga federal yang menangani
isu-isu persamaan hak dalam kesempatan bekerja.
"Di Amerika,
EEOC memastikan seseorang tidak boleh didiskriminasi karena agama, ras,
SARA. Kalau ini terjadi maka kita wajib melaporkan ke lembaga ini untuk
memastikan tidak akan terjadi lagi," jelas Ranti.
Selama menunggu
kasusnya masuk persidangan, Ranti sempat bekerja di beberapa klinik.
Ranti berpindah-pindah karena klinik tempatnya bekerja tak lagi sesuai
dengan nilai yang dipegangnya, cenderung komersil, menghalalkan segala
cara dibanding mengutamakan perawatan pasien yang benar.
Dari
hasil kerjanya, Ranti menabung untuk mengembangkan diri dan bersekolah
lagi di sekolah kedokteran gigi bergengsi The Dawson Center. Di sini
Ranti mempelajari perawatan gigi secara menyeluruh. Hingga akhirnya,
hasil gugatannya ke pengadilan melalui EEOC keluar.
"Di
pengadilan bisa berdamai. Walaupun mereka tak mengakui, tapi mereka
menyelesaikan ini secara damai di pengadilan," tutur Ranti yang selama
wawancara ditemani sang suami, Richard Bennett Jr.
Selama
menghadapi diskriminasi SARA di Angkatan Udara AS (US Air Force/USAF)
dan dunia sipil, dukungan Rich, panggilan akrab Richard Bennett, suami
Ranti setia mendukungnya. Bahkan, Ranti mengatakan sejak awal
pernikahan, Rich rela berkorban dengan meninggalkan pendidikan dan
karirnya yang moncer.
Rich meninggalkan pendidikan PhD bidang
ekonomi di Cornell University saat menikahi Ranti, keluar dari 2
perusahaan pialang saham di Wall Street New York karena menuntutnya
melakukan perdagangan ilegal, hingga menjadi tukang bungkus di salah
satu toko kelontong saat menemani Ranti pindah bekerja di USAF.
Selama
16 tahun menikah, Rich yang sudah masuk Islam 7 tahun sebelum bertemu
Ranti selalu mendukungnya. Semua perlakuan terhadap istrinya itu,
baginya kuncinya satu, bagaimana mengelola hati dengan baik.
"Anda
selalu akan menemukan kontradiksi. Di Indonesia ada 280 juta umat
Islam, tapi juga banyak korupsi, ini kontradiksi. Di Amerika juga punya
masalah yang sama, ada kontradiksi itu. Masalahnya adalah hatimu, bukan
masalah di mana tempatmu. Hatimu yang menentukan semua kontradiksi ini,
bagaimana mau menjalani hidup berdasarkan baik atau buruknya hati ini,"
kata Rich.
Rich menambahkan, dirinya dan istrinya bisa saja
marah, kecewa dan mengeluh atas semua perlakuan diskriminasi ini.
Alih-alih memilih kecewa dan marah, dirinya lebih memilih bersyukur,
menerima dan menghadapinya.
"Mengalami diskriminasi, ada sesuatu
yang salah dalam hati, marah, balas dendam, kecewa, mengeluh. Semua itu
penyakit hati dan itu tidak konsisten dengan iman. Jangan lari, harus
dihadapi," tegas Rich yang lahir di Fayetville, North Caroline, 22
September 2964 ini.
Ranti menambahkan, dalam menghadapi masalah
diskriminasi yang dialaminya ini, dirinya dan Rich menghadapi dengan
sikap dan ahklak terbaik.
"Dengan cara akhlah terbaik selesaikan
maslaahnya dan di dalam kita melakukan isntropeksi diri. Itu bagian
dari usaha dunia kita, sementara dalam hati kita berserah diri kepada
Allah, bahkan keadilan sekalipun," tutur Ranti.
Setelah berpindah
dari satu klinik ke klinik lain, Ranti dan suaminya akhirnya berhasil
mendirikan klinik dokter gigi sendiri. Orchid Dental yang terletak di
Bala Cynwyd, Pennsylvania sejak tahun 2009 dengan Ranti sebagai
dokternya dan Rich sebagai dental hygienist atau asisten dokter gigi.
"Rich
pada 20 tahun lalu pernah bersekolah di dental hygiene dan kreditnya
bisa ditransfer untuk bersekolah lagi dengan mengambil lisensi," kata
Ranti.
Jadilah, pasangan suami-istri ini kini bahu membahu
melayani pasien di kliniknya. Dengan pendidikan dan keahlian yang
dimiliki Ranti yang menguasai perawatan gigi lengkap, tak cuma merawat
gigi melainkan semua sistem pengunyahan, Ranti sempat menjadi dokter
gigi terbaik di AS pada tahun 2011.
Penghargaan itu diterimanya
saat salah satu yayasan konsumen melakukan survei pada warga AS tentang
dokter gigi terbaik. Dengan membuka klinik sendiri, Ranti relatif tak
mengalami diskriminasi seperti yang dialaminya di AU AS maupun saat
berpraktek di klinik gigi orang lain. Ranti bahkan jarang menerima
pertanyaan dari pasiennya mengenai jilbab yang dikenakannya. Mereka
sangat menghargai kemampuan profesional Ranti.
"Orang-orang di AS
sangat educated ya, sebelum mereka memeriksakan diri ke saya, mereka
mencari-cari dulu melalui Google, mengenai jilbab saya rasa mereka juga
mencari sendiri apa itu jilbab. Mereka sangat menghargai saya, bahkan
saya pernah merawat pasien perempuan Yahudi dan dia menganggap saya
adalah pasangan dokter-pasien baginya," tutur Ranti.
detik.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar