Apa yang menyebabkan sebuah negara
menjelma menjadi sebuah negara maju, makmur dan sejahtera? Negara-negara
Eropa, misalnya. Semua serba ada di sana, income per kapita penduduknya
terpaut jauh dengan negara lain.
Atau ambilah contoh negara di Asia
seperti Jepang, Korea, atau Singapura, misalnya. Apakah karena
sumberdaya alam negara mereka melimpah ruah yang membuat mereka
sejahtera? Ternyata tidak.
Jepang misalnya, tidak satupun bahan
tambang yang mereka miliki. Minyak, aspal, besi, semen dan seterusnya,
semua mereka impor dari negara lain. Begitu juga Korea, sebuah negara
kecil yang juga tidak memiliki kekayaan alam yang bisa diandalkan. Yang
terjadi adalah konflik dan perang saudara berkepanjangan. Singapura
apalagi, jangankan bahan tambang dan kekayaan alam, air, pasir dan
hampir semua kebutuhan penduduknya didatangkan dari negara lain.
Lalu apa yang membuat mereka sukses dan
sejahtera? Berdasarkan pengamatan dan tak terbantahkan, yang membuat
mereka berbeda adalah perilaku dan sikap mental mereka. Mereka pekerja
keras dan sangat disiplin. Karena sumbedaya alam yang mereka miliki
terbatas, maka mereka hemat dan penuh perhitungan. Berbagai inovasi
terus digali agar pemanfaatan sumberdaya alam lebih efisien, lebih baik
dan lebih baik lagi. Kebersihan dan lingkungan dijaga agar masyarakatnya
tidak mudah sakit dan selalu produktif. Sakit dalam kacamata mereka
adalah pemborosan yang bisa dicegah sejak dini.
Islam telah lama mengajarkan sikap dan
prilaku-prilaku teladan seperti yang dilakukan masyarakat di negara maju
tersebut. Puasa misalnya, terutama puasa di bulan Ramadhan, merupakan
sebuah isyarat bahwa manusia disuruh berhemat, mengendalikan hawa nafsu
dan tidak menghambur-hamburkan sumberdaya alam secara berlebihan. Fakta
yang cukup menyedihkan adalah kita “terpaksa” mengimpor gula, terigu,
cabe, beras bahkan daging sapi dan berbagai kebutuhan pokok lainnya dari
negara lain. Saya tulis “terpaksa” karena impor tersebut kita lakukan
sebagai pilihan terburuk sebagai sebuah pemborosan devisa. Padahal
sumberdaya alam kita tersedia berlimpah.
Lalu kalau kita lihat kenapa
produk-produk Jepang bisa merajai pasaran, terutama elektronik dan
kendaraan bermotor? Jawabannya adalah mereka memberikan kejujuran.
Kejujuran akan berimplikasi kepada kepercayaan (trust). Kejujuran yang
mereka tawarkan di sini adalah produk Jepang adalah yang terbaik, persis
seperti apa yang mereka janjikan. Tidak ada kebohongan dan tipu daya di
sana. Akibatnya timbullah kepercayaan (trust) terhadap produk-produk
Jepang, terutama elektronik dan kendaraan bermotor, di seluruh dunia.
Akibatnya Jepang menjelma menjadi negara kaya raya. Apapun bisa mereka
beli.
Begitu juga barang-barang yang keluar
dari Singapura, meski barang-barang tersebut bukan diproduksi di
Singapura, tapi Singapura menambahkannya dengan jaminan trust, baik
berupa kualitas, ketersediaan barang, proses penjualan dan pasca
penjualannya. Maka orang dari manca negara pun berduyun-duyun berbelanja
ke Singapura, termasuk Indonesia.
Padahal Nabi Muhammad SAW telah sejak
ribuan tahun lalu mengajarkan dan mengamanahkan kepada umat Islam aspek
kejujuran dalam berniaga. Katakan barang tersebut baik jika barang
dagangan itu memang baik dan katakan terus terang jika barang tersebut
memiliki kelemahan jika memang memiliki kelemahan atau cacat. Dilarang
pula mengurangi timbangan.
Puasa selama sebulan penuh melatih dan
mengingatkan kembali agar agar umat Islam memiliki nilai-nilai yang
dimiliki dan menjadi syarat pokok masyarakat sebuah negara maju
tersebut. Bahkan lebih lengkap dari itu. Mereka di negara maju saat ini
merasa timpang dan ada yang kurang, meski mereka kaya raya.
Kekurangannya adalah mereka lemah dalam praktek ibadah dan hubungan
dengan Tuhan. Hubungan secara horizontal baik (hablumminannas), tapi
tidak baik dalam hubungan vertikal dengan Tuhan (hablumminallah).
Dalam puasa selama bulan Ramadhan semua
nilai-nilai itu lengkap diajarkan dan umat Islam disuruh melatihnya
selama sebulan penuh. Tinggal kita mengamalkan dan mengahayatinya secara
benar. Jika semua amalan selama bulan puasa itu dilakukan bangsa
Indonesia secara benar dan terus diperbaiki dan disempurnakan dari tahun
ke tahun, saya yakin bangsa kita akan menjadi bangsa yang maju dan
makmur. Malah lebih lebih baik dari bangsa lain, maju dan makmur di
dunia, namun juga maju, makmur dan sejahtera di akhirat. Amiin…. ***
Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar
Singgalang 15 Juli 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar