Salah seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin Mesir, Mohamed El Beltaji tak
menyangka putri satu-satunya akan secepat itu pergi meninggalkannya.
Remaja putri yang manis dari lembah Sungai Nil, Asmaa Mohamed El Beltaji
kini telah tiada.
Dalam usianya yang masih 17 tahun, ia telah
menjemput gelar sebagai syahidah dalam tragedi berdarah di Rabea Al
Adawiyah (14/8) lalu.
El Beltaji mengisahkan, dulu ia terlalu
sibuk dengan aktivitasnya sebagai pimpinan dan tokoh Ikhwanul Muslimin.
Hingga putri satu-satunya itu sering mengeluhkan bahwa ia jarang sekali
mendapat waktu untuk bersama ayahnya.
"Terakhir kami duduk
bersama di Rabaa Al Adawiyah, dia berkata padaku, 'Bahkan ketika Ayah
bersama kami, Ayah tetap sibuk.' Saat itu kukatakan, 'Tampaknya
kehidupan ini tidak akan cukup untuk kita menikmati setiap kebersamaan,
jadi aku berdoa kepada Tuhan agar kita menikmatinya kelak di surga'."
Kisah El Beltaji dalam tulisannya yang di posting di sebuah blog.
Dua
hari sebelum putrinya terbunuh, El Beltaji sempat bermimpi tentang
putrinya. Dalam mimpi itu, ia melihat putrinya memakai gaun pengantin
berwarna putih. "kau terlihat begitu cantik," ujarnya.
Dalam
mimpi itu El Beltaji sempat berbincang-bincang dengan putrinya. Putrinya
dengan manja berbaring duduk disampingnya. "Aku bertanya, 'Apakah ini
malam pernikahanmu?' kau menjawab, 'Waktunya adalah di sore hari Ayah,
bukan malam'." kisahnya.
Ternyata tafsir dari mimpi itu
mengatakan padanya, sore itu putrinya tewas di Rabea Al Adawiyah. "aku
mengerti apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu
sebagai martir. Kau memperkuat keyakinanku bahwa kita berada di atas
kebenaran dan musuh kita berada pada kebathilan." katanya.
El
Beltaji begitu terpukul kehilangan putri satu-satunya itu. Bahkan, ia
sama sekali tidak bisa menyaksikan putrinya untuk terakhir kalinya."Aku
tidak melihatmu untuk terakhir kalinya, tidak mencium keningmu, dan
memilki kehormatan untuk memimpin shalat jenazahmu."
Kehilangan
putri satu-satunya tidak membuat El Beltaji putus asa. Bahkan,
semangatnya untuk berjuang menyelesaikan revolusi Mesir saat ini makin
membara di dadanya. Ia mengatakan, ia tak peduli lagi dengan nyawanya.
ia tak takut dengan militer dan penjara. Putrinya telah berkorban nyawa
untuk revolusi negara Nabi Musa itu, sekarang apakah ia akan lari dan
meninggalkan perjuangannya?
"aku tidak mengucapkan selamat
tinggal, tapi aku mengucapkan sampai jumpa. Kita akan segera bertemu
dengan Nabi kita tercinta dan sahabat-sahabatnya di surga. Keinginan
kita untuk menikmati kebersamaan kita akan menjadi kenyataan," tutup
tulisan tersebut.
republika.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar