Warga Sulit Air kembali memperlihatkan
kekompakannya. Sabtu (10/8) melalui organisasi Sulit Air Sepakat (SAS),
warga setempat menggelar musyawarah besar (Mubes) ke-21 guna memilih
pengurus yang baru.
SAS adalah organisasi yang mewadahi
perantau asal nagari yang terletak nun jauh di kaki bukit di Kecamatan X
Koto Diatas Kabupaten Solok.
Letak kampung mereka boleh saja nun
jauh di kaki bukit, jauh dari hiruk pikuk kota. Namun cara berfikir dan
bertindak anak nagari Sulit Air nampaknya sudah mendunia (global).
Buktinya, pada mubes tahun ini, perantau
Sulit Air dari hampir seluruh pelosok Indonesia bahkan mancanegara hadir
pada acara tersebut. Dari mancanegara di antaranya datang dari
Malaysia, Singapura, Jepang, Australia dan Amerika. SAS ternyata sudah
lama punya kepengurusan (DPD SAS) di daerah tersebut. Kini SAS telah
memiliki sekitar 100 di berbagai penjuru.
Pembukaan mubes berlangsung meriah.
Ribuan masyarakat Sulit Air, baik yang berdomilisi di kampung maupun
yang dari perantauan tumpah ruah memadati lapangan terbuka tempat
berlangsungnya acara. Menurut panitia tak kurang 1.500 kendaraan roda
empat tercatat sebagai rombongan pulang basamo SAS tahun ini?
“Jika setiap kendaraan membawa empat
perantau saja, maka tak kurang 6.000 perantau pulang tahun ini?” ujar
panitia. Jumlah tersebut hampir dua kali lipat jumlah penduduk yang
berdomisili di Sulit Air.
Ada dua fenomena menarik dari perantau
Sulit Air. Pertama, mereka sukses di perantauan, kedua mereka punya
kepedulian yang tinggi terhadap kampung halamannya. Lebih dari seribu
mobil berbagai merek yang dibawa pulang basamo serta rumah-rumah
mentereng yang dibangun di kampung merupakan bukti bahwa mereka sukses
di rantau.
Kekompakan dalam organisasi SAS, semangat
pulang basamo, berbagai fasilitas umum yang disumbangkan seperti
jembatan, mesjid, sekolah dan banyak lainnya merupakan bukti kepedulian
perantau anak nagari Sulit Air terhadap kampungnya. Sifat ini tentu
patut kita acungkan jempol dan diapresiasi setinggi tingginya. Tradisi
ini perlu terus dikembangkan dan dipertahankan.
Yang menggelitik pikiran saya, bisakah
tradisi tersebut terus dipertahankan di masa datang? Atau perlu kita
belajar dari SAS, bagaimana cara mempertahankan dan memupuk kecintaan
mereka terhadap kampung halaman?
Logikanya begini, kenapa seseorang cinta
kepada kampung halamannya? Jawabannya karena ia punya kenangan indah di
daerah tersebut. Ia sejak kecil tinggal di kampung tersebut, sekolah di
sana, tumbuh dan besar di sana. Kenangan indah itulah yang membuat ia
rindu dengan tanah kelahirannya, cinta, dan ingin membangun kampungnya.
Kini telah terjadi perubahan, banyak
generasi warga Minang tak lagi lahir dan dibesarkan di Minang. Bisa
dipastikan kecintaan dan ikatan emosional mereka dengan Ranah Minang tak
sekental pendahulunya yang tinggal dan dibesarkan di Minang. Tentu
semangat pulang basamo dan semangat membangun kampung mereka tak sehebat
generasi pendahulunya.
Masalah ini perlu kita pikirkan jalan
keluarnya dari sekarang jika tak ingin tradisi pulang basamo dan
perantau membangun hanya tinggal sejarah. Atau kita perlu belajar dan
menggali pengalaman masyarakat Sulit Air jika mereka punya resep untuk
mengatasi masalah tersebut ? (*)
Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar
irwan-prayitno.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar