Hati bu Rina pagi ini sedih dan kecewa. Betapa tidak, sedang asyik
menyeterika baju sekolah putri satu-satunya Santi, tiba-tiba listrik di
rumahnya padam. Baru baju Santi sebelah kiri saja yang selesai
diseterika, bagian kanan baju itu kusut masai tak karuan. Padahal pagi
ini Santi akan mengikuti upacara bendera, ia terpilih sebagai pembaca
Teks Pembukaan UUD 1945. Apa komentar peserta upacara melihat pakaian
Santi yang kusut sebelah? Mau digosok dengan seterika bara tempurung
seperti dulu, sudah tak ada lagi ditemukan setrika seperti itu di zaman
kini.
Pak Tino di pasar raya juga mengalami nasib serupa. Tengah asyik
memangkas rambut pelanggan dengan mesin pangkas kesayanggannya,
tiba-tiba listrik padam. Baru bagian sebelah kanan saja rambut pelanggan
selesai ia pangkas. Pak Tino tak dapat berbuat apa-apa dan kecewa,
ingin beralih ke mesin potong rambut manual seperti dulu, sudah lama tak
lagi tersedia.
Listrik saat ini memang sudah menjadi kebutuhan vital, kita sangat
tergantung pada ketersediaan listrik. Mulai dari kebutuhan rumah tangga
seperti memasak nasi, mencuci, penerangan, hand phone sampai
kebutuhan usaha besar dan kecil, apalagi industri, semua membutuhkan dan
tergantung pada ketersediaan listrik. Itulah sebabnya ketika terjadi
pemadaman listrik, hampir sebagian besar kegiatan masyarakat terganggu.
Wajar jika masyarakat sangat kecewa.
Menurut General Manager (GM) PT PLN Wilayah Sumbar Warsito Adi
pemadaman listrik yang sering terjadi belakangan ini adalah akibat
rusaknya sejumlah pembangkit listrik di Sumatera Barat, baik akibat
dalam perbaikan dan perawatan rutin, maupun akibat kurangnya debit air
di sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang berkebetulan waktu
kejadiannya bersamaan.
PLTU Ombilin yang selama ini menjadi pemasok listrik terbesar,
pembangkitnya mengalami kerusakan sejak beberapa bulan terakhir.
Kapasitas terpasang PLTU Ombilin yang semula 2×100 MW, kemampuan
produksi saat ini cuma 1 x 80 MW, bahkan terkadang nol sama sekali.
Karena memang sudah jadwalnya untuk diperbaiki, pembangkit yang masih
bisa berproduksi 1 x 80 MW ini pun juga dinonaktifkan total, dalam
rangka perbaikan total pada seluruh pembangkit PTLU Ombilin.
Tiga PLTA andalan yang menjadi tulang punggung pembangkit listrik
Sumatera Barat yaitu PLTA Batang Agam, PLTA Maninjau dan PLTA Singkarak
belakangan ini tak mampu berproduksi optimal. Hal ini disebabkan oleh
musim kemarau yang cukup ekstrim dan di luar prediksi semula. Kurangnya
debit air akibat musim kemarau pada akhirnya menyebabkan menurunnya
produksi listrik di masing-masing pembangkit listrik tenaga air
tersebut. Padahal jika semua semua pembangkit itu berproduksi optimal,
maka terjadi surplus listrik di Sumatera Barat. Namun akibat kemarau
yang menyebabkan berkurangnya elevasi permukaan air danau dan Batang
Agam, bersamaan pula dengan terjadinya kerusakan di PLTU Ombilin. Maka
tak dapat dielakkan lagi, terjadi defisit listrik yang cukup besar di
Sumatera Barat.
Masalah serupa tidak hanya dialami oleh Sumatera Barat. Semua
provinsi di Sumatera mengalami hal serupa. Jika kita bicara secara
global, maka ada dua krisis yang akan melanda dunia dalam waktu dekat
bahkan telah mulai dirasakan keberadaannya, yaitu krisis pangan dan
krisis energi. Krisis energi dirasakan akibat kebutuhan manusia akan
energi yang terus meningkat, sementara sumber energi, terutama yang
bersumber dari fosil (BBM dan batubara) makin menipis jumlahnya. Maka
saat ini masyarakat dunia ramai-ramai melakukan percobaan dan penelitian
untuk memanfaatkan sumber energi terbarukan (non fosil) atau disebut
juga dengan energi hijau.
Pemerintah Sumatera Barat tidak tinggal diam. Sejak dini kita juga
sudah mencari sumber-sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan
energi masyarakat yang terus meningkat, namun juga ramah lingkungan.
Sejak dua tahun lalu sudah dijalin kerjasama dengan Pemerintah Jerman
untuk mengembangkan energi alternatif tersebut. Selain air yang sudah
umum digunakan, tenaga matahari, angin, dan sampah (bio gas) juga bisa
dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik. Dengan memanfaatkan
sumber-sumber tersebut sejumlah desa di Jerman misalnya, telah menjadi
desa mandiri energi. SKPD terkait, sejumlah praktisi dan tokoh
masyarakat Sumatera Barat sudah dikirim dan difasilitasi untuk belajar
mengembangkan energi tersebut. Suatu saat, dengan dukungan masyarakat,
di Sumbar diharapkan juga muncul desa2 mandiri energi.
Selain itu Sumatera Barat merupakan provinsi pertama di luar Jawa
yang telah membangun pembangkit listrik geothermal. Namun tentu saja
membangunnya tidak dengan simsalabim, langsung jadi. Pekerjaan raksasa
yang membutuhkan dana triliunan rupiah itu sedang berjalan, kini
pekerjaannya sudah mencapai sekitar 60 persen. Pembangkit listrik tenaga
panas bumi yang berlokasi di Kabupaten Solok Selatan ini direncanakan
selesai tahun 2015 dengan kapasitas 400 MW sd 600 MW. Satu pembangkit
listrik yang ramah lingkungan ini saja idealnya sudah dapat memenuhi
kebutuhan total Sumatera Barat yang hanya berjumlah sekitar 400 MW.
Alternatif lain, meski tertunda cukup lama PLTU Teluk Sirih yang
berlokasi di Bungus Insya Allah akan beroperasi beberapa bulan ke depan.
Kepada pihak PLN wilayahSumbar Pemprov meminta supaya : 1.
Mempercepat upaya perbaikan mesin pembangkit yang rusak, 2. Membuat
hujan buatan di lokasi-lokasi sekitar PLTA, 3. Memanfaatkan PLTD yang
ada sebagai antisipasi, 4. Memanfaatkan pembangkit listrik yang ada di
BUMN seperti PT Semen Padang, misalnya, 5. Mempercepat beroperasinya
PLTU teluk Sirih, 5. Meningkatkan efisiensi listrik, 6. PLN bekerja
lebih serius dan bersunggguh-sungguh.
Atas semua ketidak nyamanan ini, kami atas nama Pemerintah Sumatera
Barat dan semua pihak yang terkait meminta maaf yang sedalam-dalamnya
kepada seluruh masyarakat Sumatera Barat. Kami mohon masyarakat bersabar
dan memberi dukungan agar masalah ini bisa segera kita atasi bersama
secepatnya. ***
Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar
Singgalang 10 September 2013
irwan-prayitno.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar