NEW YORK -- Pelapor hak asasi manusia PBB, Tomas Ojea Quintana,
menuntaskan laporannya tentang kejahatan kemanusian di Myanmar. Dalam
laporan yang disampaikannya di Majelis Umum PBB, Quintana mengatakan
kekerasaan terhadap muslim di Myanmar adalah kejahatan serius.
''Narasi
anti-muslim di Myanmar telah menelantarkan niat perubahan rezim militer
di negara itu. Sifat anti-muslim telah mendalam, dan mengancam,'' kata
Quintana, di Markas PBB, New York, Amerika Serikat (AS), Kamis (24/10)
waktu setempat, seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (25/10).
Bentrokan
antaretnis melanda Negara Bagian Rakhine di Myanmar sepanjang 2012.
Tercatat 192 orang tewas. Bentrokan terjadi ditengarai akibat aksi balas
dendam sekelompok mayoritas Budha Rakhine terhadap Muslim Rohingya.
Aksi tersebut menyulut gelombang migrasi paksa dan teror.
Badan
Pengungsian PBB (UNHCR) di Bangladesh mengatakan, tercatat 800 ribu
Muslim Rohingya terusir dari sentimen anti-muslim di Myanmar. Bentrokan
di Myanmar menambah sekira 140 ribu migrasi baru. Kebanyakan mereka
adalah korban aksi pengusiran paksa di Rakhine.
Pemerintah
Myanmar mencatat sekira lima persen dari 60 juta populasi di negara
junta itu adalah muslim. Kebanyakan mereka beretnis Rohingya. Namun
keberadaan mereka tidak diakui keberadaannya. Ironi, sekelompok
agamawan, bahkan menganggap Muslim Rohingya sebagai musuh.
Myanmar
dengan mayoritas pemeluk Budha, mengampanyekan anti-muslim. Tidak
jarang, kampanye tersebut menyulut kerusuhan bahkan kematian. Bentrokan
di 2012 pun terasa di negara bagian lain. Bahkan sampai ke bekas Ibu
Kota Yangon. Bentrokan terakhir terjadi September lalu dan menewaskan
belasan muslim. Bentrokan terakhir tidak lagi hanya menyasar Muslim
Rohingya. Namun semua kelompok muslim lainnya. Quintana mengatakan,
situasi terakhir menggambarkan Myanmar sebagai negara anti-muslim.
republika.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar