Padang – Di tahun 2009 Sumatera Barat diguncang gempa besar yang
mengakibatkan kerusakan bangunan yang cukup parah. Akan tetapi
Pemerintah Provinsi tidak putus asa melakukan perbaikan, termasuk di
bidang wisata.
Pemprov didukung oleh Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia-PHRI
serta ASITA tetap gencar memacu pengembangan bidang pariwisata.
Ini disampaikan Gubernur Irwan Prayitno pada acara Opening Ceremony
Tourism Indonesia Mark & Expo ( TIME) di Auditorium Gubernur Jumat
malam (18/10). Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Menteri Pariwisata
Sapta Nirwandar, Wakil Gubernur Muslim Kasim, Ketua DPRD Ir. Yultehnil,
MM, beberapa kepala SKPD di lingkungan Pemprov Sumbar, Asita, Kadin
serta buyer dari beberapa negara.
Irwan juga menyampaikan, selain itu juga menggandeng Visit Indonesia
Tourism Office, serta mengunjungi pasar wisata di luar negeri untuk
meyakinkan para wisatawan agar kembali berkunjung ke Sumatera Barat.
Untuk menarik minat wisatawan datang lagi ke Sumatera Barat, Pemprov
juga gencar melakukan promosi melalui iven balap sepeda Tour de
Singkarak, yang selalu disupport oleh anggaran dari Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Hal itu membuahkan hasil. Justru pasca
gempa pembangunaan infrastruktur pariwisata berupa hotel semakin
meningkat luar biasa. Kamar hotel yang dulunya mencapai 3700 kamar, kini
meningkat sampai 5400 kamar.
Provinsi Sumatera Barat bersama Kabupaten/Kota bersama-sama membuat
rencana pembangunan jangka menengah pariwisata yang dituangkan dalam
berbagai program kongkrit. Kita punya berbagai iven wisata, seni dan
budaya seperti, Mentawai Surfing Contest, Sawahlunto Ethnic Music,
Dragon Boat di Padang, Pacu Jawi di Tanah Datar, Tour de Singkarak, dan
masih banyak lagi.
Untuk itu melalui kegiatan TIME yang mempertemukan seller dan buyer
pada satu meja transaksi, dapat menjadi langkah efektif dalam menjual
produk wisata di Sumbar dan Indonesia secara umum. Peserta Time dari
luar negeri juga dihimbau agar mengunjungi destinasi wisata di
Minangkabau, seperti wisata bahari, gunung, danau, bukit, dan banyak
lainnya, dan tentunya juga menikmati makanan terlezat di dunia yakni
rendang, ungkapnya
Sementara Wamen Kemenparekraf Sapta Nirwandar menyampaikan, TIME
merupakan pasar yang efektif untuk melakukan jual beli produk wisata,
karena sistemnya B to B (Bisnis To Bisnis) mempertemukan pelaku industri
wisata Indonesia dan operator industri wisata luar negeri.
Membanggakan, TIME ke 19 dengan tuan rumah Sumatera Barat, karena di
Ranah Minang ini banyak kekayaan wisata, kultur dan budaya.
Keunikan kultur Minangkabau salah satunya yakni menganut garis
keturunan ibu (matrilineal). Wanita di Minangkabau mendapat penghormatan
yang luar biasa. Dari segi sejarah dan budaya, Sumatera Barat juga
memiliki cerita dan peninggalan yang ada sampai saat ini. Jika di London
ada Jam Big Ben, Kita di Bukitinggi punya replikanya yakni Jam Gadang.
Grand Canyon yang diketahui secara luas ada di Arizona, ternyata juga
ada di Harau, Payakumbuh. Arsitektur bangunan di Minangkabau juga tiada
duanya, yakni atap “Bagonjong” dengan lengkungan khas, tiada duanya di
dunia katanya.
Opening Ceremony TIME yang digelar di Auditorium Gubernuran ditandai
dengan pemukulan gendang tasa oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera
Barat, Wakil Menteri Pariwisata, Ketua Umum PHRI, dan Ketua Asita.
Pelaksanaan Acara Pasar Wisata Indonesia atau Tourism Indonesian Market
and Exhibition-TIME dilaksanakan 18-21 Oktober di Hotel Grand Inna
Muara. Pada kesempatan pembukaan TIME, Kementerian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif juga menyerahkan dokumentasi berita media massa pada
Tour de Singkarak-TdS 2013. Buku dokumentasi TdS setebal 3000 halaman,
diserahkan oleh perwakilan Kemenparekraf Raseno Arya kepada Gubernur
Irwan Prayitno.
irwan-prayitno.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar