Sudah lama Nabi Ibrahim AS mendambakan seorang anak. Barulah
menjelang usia senja istri Nabi Ibrahim, Hajar terlihat mengandung dan
menjanjikan keturunan. Maka Nabi Ibrahim makin sayang kepada Hajar.
Kemudian Hajar melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan lucu
dan diberi nama Ismail. Nabi Ibrahim makin sayang kepada Hajar dan
anaknya Ismail. Namun Allah menguji mereka. Allah memerintahkan Nabi
Ibrahim Hajar ke suatu tempat yang jauh, yang Nabi Ibrahim sendiri tidak
mengenal tempat itu.
Dari Palestina dengan mengendarai onta, Nabi Ibrahim membawa Hajar
dan Ismail ke arah yang dia sendiri tidak tahu tujuannya. Namun ia yakin
ada Allah akan membimbingnya. Setelah selama berminggu-minggu berjalan
sampailah Nabi Ibrahim di sebuah daerah yang bernama Mekah. Saat itu
daerah tersebut tidak berpenghuni. Dimana-mana hanya terlihat gurun
pasir dan gunung-gunung batu, tak ada tanaman untuk dimakan juga tak ada
air untuk diminum. Nampaknya di sinilah Hajar dan Ismail diperintahkan
untuk ditinggalkan.
Nabi Ibrahim tentu saja sangat sedih, namun beliau berkata kepada
Hajar: ”Bertawakallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya,
percayalah kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah
aku membawa kamu ke sini dan dialah yang akan melindungi kamu dan
menyertai kamu di tempat yang sunyi ini. Sungguh kalau bukan perintah
dan wahyu-Nya, tidak sekalipun aku tega meninggalkan kamu di sini
seorang diri bersama puteraku yang sangat aku cintai ini. Percayalah
wahai Hajar bahwa Allah yang Maha kuasa tidak akan menelantarkan kamu
berdua tanpa perlindungan-Nya. Rahmat dan barakah-Nya akan tetap turun
di atas kamu untuk selamanya. Insya-Allah”
Setelah ditinggal Ibrahim, keadaan Hajar dan Ismail sangat
mengenaskan. Segera saja Hajar kelaparan dan dahaga di gurun tandus
tersebut. Akibat kelaparan, air susunya juga tak lagi menetes untuk
menyusui Ismail. Ismail menangis terus-menerus menyayat hati. Kelaparan,
kecemasan ditambah tangisan Ismail karena tak ada lagi air susu yang
akan ia minum, membuat Hajar menjadik panik. Ia berlarian kesana-kemari
untuk mencari sesuap makanan atau seteguk air pengobat lapar dan
dahaga.
Lalu Hajar pergi ke bukit Safa, ia berharap bisa mendapatkan sesuatu
yang bisa menolongnya, namun hanya batu dan pasir yang ditemuinya di
sana. Dari Bukit Safa itu ia melihat bayangan air yang mengalir di atas
Bukit Marwah, kemudian ia berlari lagi ke bukit Marwah, namun setelah
sampai di sana yang dikiranya air, ternyata hanya bayangan fatamorgana
belaka.
Diriwayatkan dalam keadaan yang tidak berdaya dan hampir putus asa,
setelah 7 kali bolak balik antara Safa dan Marwah, datanglah malaikat
jibril dan bertanya: “Siapakah sebenarnya engkau ini?” Kemudian Hajar
menjawab : “Aku adalah hamba sahaya Ibrahim”. Jibril bertanya lagi :”
Kepada siapa engkau dititipkan di sini?”, hajar menjawab : “Hanya
kepada Allah.
Lalu malaikat jibril berkata lagi : “Jika demikian, maka engkau telah
dititipkan kepada Dzat yang maha pemurah dan maha pengasih, yang akan
melindungimu, mencukupkan keperluan hidupmu dan tidak akan
menyia-nyiakan kepercayaan ayah puteramu kepada-Nya”
Lalu Hajar diajak ke suatu tempat dimana malaikat jibril
menginjakkan telapak kakinya kuat kuat di atas tanah. Atas izin Allah
keluarlah dari bekas telapak kaki itu air yang begitu jernih. Mata air
itu kemudian dinamakan mata air zam-zam yang tak pernah kering hingga
saat ini. Keberadaan ini pula yang membuat kota Mekah makin lama makin
tumbuh dan berkembang luar biasa hingga saat ini.
Ketika Nabi Ismail AS mencapai usia remaja, Nabi ibrahim mendapat
mimpi bahwa ia harus menyembelih puteranya tersebut. Lama Nabi
termenung menafsirkan mimpi itu. Sungguh amat berat ujian yang harus
dihadapinya. Namun sesuai dengan firman Allah: “Allah lebih mengetahui
dimana dan kepada siapa Dia mengamanatkan risalah-Nya”. Lalu Nabi
Ibrahim menuju ke Mekah untuk menemui dan menyampaikan hal tersebut
kepada putranya Ismail.
Seperti firman Allah dalam QS 2: 124, Dan (ingatlah, ketika Ibrahim
diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu
Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman:”Sesungguhnya Aku akan
menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: ”(Dan saya
mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak
mengenai orang yang zalim”.
Tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang Nabi Ismail pun menjawab
perkataaan ayahnya : “Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah
diperintahkan oleh Allah kepadamu. Kemudian dipeluknya Nabi Ismail AS
dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata : “Bahagialah aku
mempunyai seorang putra yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang
tua yang ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah
Allah”
Saat penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan
dan kaki Nabi Ismail AS, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu
diambillah parang tajam yang sudah tersedia. Awalnya terjadi perang
bathin di hati beliau, antara perasaan seorang ayah di satu pihak dan
kewajiban seorang rasul di satu pihak yang lain. Namun akhirnya dengan
memejamkan matanya, parang diletakkan di leher Nabi Ismail AS dan
penyembelihan pun dilakukan.
Akan tetapi, parang tajam itu ternyata menjadi tumpul di leher Nabi
Ismail AS. “Wahai ayahku, rupa-rupanya engkau tidak sampai hati
memotong leherku karena melihat wajahku, cobalah telangkupkan aku dan
laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku”. Akan tetapi parang itu
tetap tidak berdaya walau Ismail telah ditelungkupkan lehernya dipotong
dari belakang.
Dalam keadaan bingung dan sedih, datanglah wahyu Allah : “Hai
Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu sesungguhnya
demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak
itu dengan seekor sembelihan qibas”.
Kemudian sebagai ganti nyawa Nabi Ismail AS, Allah memerintahkan Nabi
Ibrahim AS menyembelih seekor domba yang telah tersedia di sampingnya.
Inilah Asal permulaan sunnah berqurban yang dilakukan oleh umat Islam
pada setiap hari raya Idhul Adha di seluruh dunia.
Dari kisah di atas bisa kita lihat betapa sebuah ujian, sebuah
perjuangan, sebuah pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas selalu
berujung dengan sesuatu yang indah, manis bahkan luar biasa. Mungkin
Hajar tidak pernah membayangkan kota Mekah yang dulu tak berpenghuni dan
dimana ia dulu berurai air mata demi seteguk air, akan berkembang pesat
menjadi kota modern seperti saat ini.
Di Idul Adha tahun ini mari kita renungkan kembali dan jadikan
teladan kisah keluarga Nabi Ibrahim AS yang penuh ujian, perjuangan dan
pengorbanan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk
meningkatkan daya juang, kesabaran menghadapi ujian dari Allah serta
keihklasan untuk berkorban demi kemajuan bersama, dan tentu juga untuk
diri dan keluarga kita sendiri. Semoga kita ummat yang bertaqwa. ***
Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar
Singgalang 11 Oktober 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar