Terima kasih kepada pengunjung blog. Jumlah kunjungan telah melewati 23.000. Nikmati postingan baru setiap Sabtu-Ahad
Home » » Avro Anson, Pesawat Sumbangan Rakyat Sumatera Barat

Avro Anson, Pesawat Sumbangan Rakyat Sumatera Barat

Written By Unknown on Jumat, 15 Maret 2013 | 23.11

Pada masa agresi militer Belanda I (1947 ), hubungan pulau Sumatera dengan pulau Jawa terganggu akibat blokade oleh pasukan Belanda. Mereka menguasai kota-kota penting di pulau Sumatera, seperti Padang, Medan, Palembang dan kota-kota lainnya. Hanya Aceh dan Bukittinggi yang belum dikuasai oleh Belanda. Wakil Presiden Moh. Hatta menyarankan agar Sumatera memiliki pesawat terbang.

Untuk merealisasikan ide Moh. Hatta tersebut, pada tanggal 27 September di Bukittinggi dibentuklah Panitia Pusat Pengumpulan Emas Untuk Membeli Sebuah Kapal Terbang. Panitia ini diketuai oleh Mr. Abdul Karim (Direktur Bank Negara), anggotanya terdiri dari Suryo (mantan Bupati Jawa Timur), R.S Surya Atmadja dan Residen Sumatera Barat Mr. Moh Rasjid. Semua unsur pemimpin diminta aktif dalam usaha ini. Para pemuda yang handal berpidato dikirim ke daerah-daerah untuk meminta kaum ibu-ibu agar rela melepaskan emas mereka guna membeli pesawat terbang untuk kepentingan pejuangan.

Para pemuda mengadakan pertemuan dan perkumpulan di mesjid, surau dan juga di lapangan terbuka. Ternyata para ibu-ibu menyambut gembira usaha ini. Hanya dalam 2 bulan saja sudah terkumpul emas sebanyak 14-15 kg. Emas ini kemudian dilebur untuk dijadikan emas batangan. Akhir November 1947, emas tersebut di serahkan kepada Moh. Hatta disaksikan oleh Chatib Soelaiman, Ketua Majelis Pertahanan Rakyat Daerah Sumatera Barat. Akhirnya dibentuklah sebuah tim yang diketuai oleh Abu Bakar Lubis. Mereka berangkat ke Singapura dan menemui perwakilan RI di Singapura Dick Tamimi dan Ferdy Salim (putra H. Agus Salim) yang menjabat sebagai staf supply mission AURI di Singapura. Mereka menemui seorang broker asal Birma yang bernama H. Savage. Pesawat terbang Avro Anson milik Paul H. Keegan berhasil ditawar. Paul H. Keegan akhirnya langsung berhubungan dengan Dick Tamimi dan Abu Bakar Lubis. Disepakati bahwa transaksi akan diadakan di Bukittinggi disaksikan oleh para pemimpin dan masyarakat.

Awal Desember 1947, Avro Anson diterbangkan dari lapangan Gadut, Bukittinggi. Kesepakatan tercapai dan pembayaran dilakukan di Songkhla, Thailand. Untuk membawa pesawat kembali ke Indonesia disuruh 2 penerbang dari Jakarta yaitu Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi. Tanggal 9 Desember 1947, Avro Anson diterbangkan ke Thailand dan singgah terlebih dahulu di Riau karena ada keperluan. Pesawat diterbangkan oleh Iswahyudi dan Halim Perdanakusuma sebagai navigatornya sedangkan penumpangnya terdiri dari Paul H. Keegan, Dick Tamimi, Is Yasin dan Abu bakar Lubis.

Setelah sampai mereka di Thailand, mereka diusir oleh polisi setempat dengan alasan penyelundupan Candu, Emas dan Perhiasan. Abu Bakar Lubis dan kawan-kawan akhirnya pindah ke Penang, Malaysia dan ke Singapura seterusnya ke Bukittinggi. Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi mendapat tugas untuk menerbangkan pesawat ke Bukittinggi. Malangnya, setelah satu jam sampai di Singapura, Abu Bakar Lubis memperoleh telegram dari polisi Malaka. Mereka mengabarkan bahwa telah jatuh sebuah pesawat terbang Avro Anson di pantai selat Malaka, dekat Tanjong Hantu, Perak Malaysia. Jenazah Halim Perdanakusuma berhasil ditemukan dan dimakamkan di Malaysia. Tetapi kemudian akhirnya dipindahkan ke Kalibata, Jakarta.Sedangkan Iswahyudi tidak diketahui keberadaannya. Kedua nama pahlawan tersebut diabadikan untuk nama bandara Halim Perdanakusuma Jakarta dan Iswahyudi untuk bandara Madiun.

Walaupun tidak pernah dioperasikan, bangkai pesawat Avro Anson terkubur dalam arus laut selat Malaka. Walaupun begitu, masyarakat Sumatera Barat merasa bangga karena telah berupaya memberikan sesuatu yang berharga bagi perjuangan kemerdekan Sumatera Barat secara khusus dan Indonesia pada umumnya. Pada tahun 1995, muncul gagasan untuk membuat replika Avro Anson di bekas lokasi lapangan udara Gadut, Bukittinggi.

Dari berbagai sumber

Dedi Asmara

http://humaniora.kompasiana.com/sejarah/2012/09/30/1/491650/avro-anson-pesawat-terbang-sumatera-barat.html

Foto: twitter.com/nofrins
 
Share this article :

2 komentar:

BELAJAR BAHASA mengatakan...

menarik sekali

BELAJAR BAHASA mengatakan...

info menarik, komentar juga ya ke blog saya www.belajarbahasaasing.com

Posting Komentar


 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011-2013. PKS Lubeg - All Rights Reserved - Email: pkslubeg@yahoo.com
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger